Senyum Allyssa (Cerbung Fiksi Bagian 1)

Hari itu tidak seperti biasanya, terburu-buru sekali dia berangkat kerja. Bahkan hanya sekedar memakan roti yang sudah disiapkan dimeja makan pun tak sempat.

Allyssa Jelita Alexandria nama lengkapnya. Lahir dari darah campuran, Mama Jawa asli dan Papa yang masih ada keturunan Portugis. Perawakannya tinggi semampai, sekitar 165 cm, tubuhnya langsing dalam balutan gaun warna beige, kulitnya bersih, hidung mancung dan matanya besar dengan pupil berwarna coklat tua.

Entah apa yang sedang dipikirkannya. Kendaraan yang dibawanya pun hampir saja menyentuh trotoar. Kenapa denganku akhir-akhir ini, gumamnya. Seakan tubuhku sedang tidak berada disini.

Masih terngiang pembicaraan dengan omanya dua pekan yang lalu, untuk segera mencari jodoh. Hanya desahan yang keluar dari mulutnya. Dia hanya bergumam. “Memang semudah itu cari jodoh”, pikirnya.

“Banyak yang perlu dipertimbangkan. Bibit, bobot, bebet oma”.

“Kamu kan sudah cukup umur nduk, mau nunggu apa lagi. Gimana dengan penawaran oma kemarin”, begitu kata Oma.

“Aku masih pengen sekolah lagi oma, aku belum pengen buru-buru menikah”, Allyssa menimpali

“Lho sudah ada calon dokter yang disodorkan kepadamu, apa kamu ga tertarik”, Oma bilang

“Belum kenal oma, orang bilang, tak kenal maka tak sayang”, kata Allyssa

“Jangan buru-buru bilang tidak nduk, sekarang cari calon mantu yang baik itu susah”, Oma bilang

“Iya oma, nanti aku pikir-pikir dulu”, jawab Allyssa

“Tenan yo nduk. Dipikir yang bener-bener”, jawab Oma

“Iya oma”, jawab Allyssa sambil berlalu

Dua hari kemudian, Allyssa dipanggil Oma.

“Gimana nduk, sudah ada keputusan belum?”,Tanya oma

“Belum oma, masih sama kaya kemarin”, jawab Allyssa

“Lho, pie to nduk. Sudah tahu bagaimana orangnya”,Tanya oma

“Belum to oma, ketemu aja belum”, jawab Allyssa

“Sing iki lho nduk wonge”, kata oma sambil menyodorkan foto

“O ini ya calon dokter itu”, jawab Allyssa datar

Didalam foto, terlihat laki-laki gagah. Perawakan tinggi sekitar 177 cm. Kulit kecoklatan terbakar matahari. Mata bulat dengan pupil hitam pekat. Berwajah manis dan berhidung mancung.

“Pie nduk. Jadinya gimana”, Tanya omanya lagi

“Belum ada keputusan oma, nanti allyssa kabari lagi. Allyssa masih pikir-pikir dulu”, jawab Allyssa sambil berlalu.

Perlu berapa kali menjelaskan ke oma bahwa dia masih senang menikmati masa gadisnya. Belum pengen buru-buru menikah. Masih banyak hal yang masih ingin aku kerjakan keluh Allyssa.

Mobil yang dibawanya hampir saja menyerempet trotoar. Upss. “Allyssa coba konsentrasi ke jalan”, terdengar suara membisik.

“Wah ini pasti gara-gara terlalu memikirkan kata-kata oma”, gumam Allyssa.

Wajahnya yang cantik dan pembawaannya yang menarik membuat banyak orang suka pada Allyssa. Tapi menurutnya menjalin hubungan itu perlu proses pengenalan tidak bisa hanya sehari atau dua hari mengenal.

Hari itu dilewatinya dengan cepat. Jam menunjukkan pukul 16.30. Dua agenda meeting hari ini sudah selesai. Allyssa segera beranjak dari tempat duduk dan segera menyalami clientnya.

“Oke bu, kami sangat tertarik dengan proposal yang ditawarkan Ibu. Akan kami kabari secepatnya mengenai proposal ini”

“Terima kasih Pak, saya tunggu berita baik dari bapak”, ujar Allyssa sambil menjabat tangan clientnya.

Setelah tujuh tahun bekerja disebuah perusahaan Advertisement, karir Allyssa melejit dengan cepat. Dalam kurun waktu yang relative lebih singkat dari rekan-rekan kerjanya yang lain, dia sudah dipercaya menjadi marketing manager di Perusahaan tempatnya bekerja.

Gerakannya yang lincah dan cekatan serta kemampuannya meyakinkan para clientnya, membuat Allysa dipercaya menjadi salah satu tangan kanan Direkturnya.

Segera dia menuju mobilnya. Dari jauh terparkir Honda jazz warna merah keluaran terbaru. Belum sampai didepan pintu coffee house tempatnya meeting tadi, Brakkkk…

Bawaannya jatuh kelantai. File-file berserakan. Segera dipungutinya file-file itu sambil menggerutu.

“Kalo jalan lihat-lihat donk, bawaan saya jadi berserakan begini”, jawab Allyssa ketus sambil mengambil file-filenya yang berserakan.

Tidak biasanya dia bersikap ketus. “Ah masa bodoh, tidak kenal ini”, gumamnya.

Begitu kepala Allyssa mendongak keatas, didepan matanya berdiri seorang lelaki berperawakan tinggi dengan senyum yang tersungging dibibirnya.

“Oh, maaf bu. Saya tidak sengaja”, ujar lelaki itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s